MATINYA RIBUAN IKAN DI DANAU MANINJAU

Dipublikasikan Pada : Rabu, 15 Maret 2017, Dibaca : 29 Kali  

 

Danau Maninjau yang berada di Kecamatan Tanjung Raya, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat merupakan danau vulkanik yang terbentuk akibat erupsi vulkanik dari Gunung Sitinjau pada ribuan tahun yang lalu. Danau ini membentang seluas 100 km persegi dengan kedalaman rata-rata sekitar 105 meter.

 

Selain sebagai obyek wisata, Danau Maninjau juga digunakan penduduk setempat untuk beberapa aktivitas yaitu : sebagai budidaya ikan keramba jaring apung (KJA), tempat pembuangan limbah dari rumah-rumah penduduk sekitar danau Maninjau baik limbah dari septic tank maupun limbah kegiatan mandi dan mencuci, kandang ternak di atas danau, drainage persawahan masyarakat langsung dialirkan ke Danau Maninjau, dan pencucian kendaraan bermotor.

 

Namun keindahan Danau Maninjau saat ini sudah terganggu. Danau Maninjau sudah mengalami pencemaran. Hal ini ditandai dengan banyaknya eceng gondok yang tumbuh di permukaan danau dan banyaknya ikan yang mati.

 

Eceng gondok yang tumbuh di Danau Maninjau dan matinya ikan-ikan

 

Kasus kematian massal ikan di Danau Maninjau hampir terjadi setiap tahun, yang dimulai pada tahun 2008. Beberapa dugaan penyebab kematian massal ikan di danau Maninjau antara lain :

  1. Karena danau Maninjau berada pada cekungan gunung vulkanik diduga belerang naik dari gunung api purba di dasar danau biasa disebut tuba belerang, ketika cuaca ekstrem endapan naik ke permukaan, dan karena bercampur belerang menyebabkan ikan mati kekurangan oksigen.
  2. Karena pemberian pakan ikan (pelet) yang berlebihan sehingga mengendap di dasar danau. Menurut pejabat Dinas Lingkungan Hidup setempat ketebalan sedimen pakan ikan di dasar danau Maninjau telah mencapai 50 juta meter kubik. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya kadar ammonia dan berkurangnya kadar oksigen dalam air.
  3. Jumlah keramba jaring apung yang melebihi kapasitas yang seharusnya. Saat ini jumlah keramba sekitar 17.226 petak, sedangkan daya tampung yang diatur pada Perda Nomor 5 tahun 2014 tentang Pengolahan Kelestarian Danau Maninjau hanya 6.000 petak. 

 

Untuk mengetahui kualitas air danau Maninjau yang tercemar tersebut, BTKLPP Medan pada bulan Februari 2017 melakukan pemeriksanaan kualitas air danau tersebut dan hasilnya menyatakan bahwa air danau mengandung Seng, Klor dan Posphat di atas nilai normal. Kadar DO yang di atas ambang mutu hanya ada di 6 titik lokasi dari 30 titik lokasi pengambilan sampel air. Selebihnya kadar DO dibawah ambang mutu bahkan di beberapa titik lokasi pengambilan sampel air kadar DO = nol. Kadar COD dan BOD juga menunjukkan peningkatan yang tinggi diatas ambang mutu.

 

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut maka kualitas air danau dikatakan tercemar berat sehingga tidak layak untuk dijadikan tempat budidaya ikan karena ikan akan mati kekurangan oksigen di dalam air. Bahkan sejak th. 2016 ikan dalam kerambah hampir tidak ada ikan yang dapat bertahan hidup dalam waktu paling lama 10 hari.

 

Bersyukur masyarakat sekitar danau Maninjau tidak mengunakan air danau untuk kebutuhan sehari-hari baik untuk mandi, cuci maupun air minum sehingga tidak terjadi peningkatan kasus penyakit tular air seperti diare, kulit (gata-gatal) dll. Air bersih  dan air minum yang dipakai masyarakat lebih banyak mengunakan perpipaan dari mata air pegunungan  (bantuan dari PNPM). Ada juga yang menggunakan air PDAM tetapi jumlahnya tidak banyak. Hasil wawancara terhadap 100 orang sekitar danau Maninjau yang dilakukan oleh BTKLPP Medan pada bulan Februari 2017 menyatakan 70% masyarakat menggunakan sumber air minum dari pipa air pegunungan, 10% menggunakan air isi ulang, dan 20% mengunakan sumur.

 

Data Puskesmas Pasar Ahad, Kec. Tanjung Raya menyebutkan bahwa dari 15.500 KK yang ada sekitar 800 KK masih belum memilki jamban dan sebagian membuang kotorannya ke danau. Sedangkan kondisi sanitasi seluruh Kab. Agam 82 Desa (100 %) sudah melaksanakan STBM dan baru 24 Desa yang sudah SBS.

 

Walaupun sudah ada himbauan untuk tidak membudidayakan ikan keramba lagi di Danau Maninjau namun masih ada beberapa masyarakat yang tetap melakukannya. Hal ini terlihat karena masih adanya masyarakat yang mencoba membawa pakan ikan pelet ke keramba.

 

Himbauan antisipasi kematian ikan massal

Beberapa aktivitas masyarakat di Danau Maninjau : ada yang mencuci motor dan ada yang sedang menyiapkan pakan ikan untuk dibawa ke keramba

 

Upaya penyelamatan Danau Maninjau pun dilakukan oleh jajaran Pemerintah Kab. Agam yaitu dibentuknya Tim Terpadu Penyelamatan Danau Maninjau pada tahun 2016 yang anggotanya adalah semua SKPD di Kab. Agam. Salah satu tugas Tim Terpadu yaitu menyusun program dan kegiatan terkait upaya penyelamatan Danau Maninjau. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan oleh Tim Terpadu antara lain ;

  1. Penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak lagi beternak ikan keramba di Danau Maninjau dan beralih pada mata pancaharian lain.
  2. Pengangkutan ikan-ikan yang mati dari Danau Maninjau agar segera dikubur.
  3. Penarikan keramba yang rusak atau yang tidak digunakan lagi di Danau Maninjau.
  4. Membatasi truk-truk pengangkut makanan ikan  (pelet) ke wilayah Danau Maninjau.
  5. Pemberian bibit padi ke masyarakat, untuk alih usaha dari peternak ikan menjadi petani.
  6. Pemberian hewan ternak kepada masyarakat disekitar Danau Maninjau.
  7. Pembersihan Danau Maninjau secara rutin dari sampah dan enceng gondok.

 

Untuk sektor kesehatan, upaya yang sudah dilakukan di Kab. Agam antara lain :

  1. Melakukan pemeriksaan kualitas air Danau Maninjau secara rutin mulai tahun 2017.
  2. Pembangunan 10 Jamban Komunal disekitar Danau (2017) dan akan diusulkan kembali pada tahun 2018.
  3. Melakukan surveilans (monitoring secara rutin) setiap 1 minggu oleh Dinkes Kab. Agam dan Puskesmas  untuk mengetahui dampak kesehatan yang ada.
  4. Pembentukan kelompok masyarakat WASPADA Danau Maninjau, untuk kewaspadaan dampak kesehatan/ keluhan penyakit di masyarakat.
  5. Melakukan sosialisasi kepada kelompok Waspada Danau Maninjau untuk waspada terhadap dampak kesehatan akibat pencemaran Danau Maninjau (Th. 2014).
  6. Pemberian masker kepada masyarakat sekitar Danau Maninjau akibat bau yang menyengat dari Danau Maninjau (Th. 2014-2015).
  7. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk PHBS dan agar tidak kontak dengan air danau.
  8. Melakukan kegiatan pemicuan dan pemberian dana stimulan jamban berupa ; closet, paralon dan semen (menggunakan dana BOK).

(S/W)