Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi

Dipublikasikan Pada : Rabu, 23 Maret 2016, Dibaca : 810 Kali  

Salah satu Diskusi Panel yang dimoderatori oleh Minarto,MPS

Jakarta (22/03) – Semarak Hari Gizi Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Januari 2016 masih terasa hingga saat ini. Puncaknya yaitu terselenggaranya Workshop Hari Gizi Nasional ke 56 yang digelar selama 2 hari di Balai Kartini Jakarta. Acara yang berlangsung tanggal 22-23 Maret 2016 ini dibuka langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila F Moeloek. Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 400 peserta dari berbagai sektor dan lembaga ini bertajuk percepatan perbaikan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Hari Gizi Nasional merupakan momentum penting untuk menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari berbagai pihak untuk melaksanakan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dan pencapaian Indonesia Sehat. “HGN tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk secara terus menerus melakukan sosialisasi dan advokasi percepatan perbaikan gizi terutama pada 1000 HPK,” tutur dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Dirjen Kesehatan Masyarakat dalam laporannya.

Menteri Kesehatan RI menyampaikan sambutannya dalam Workshop Hari Gizi Nasional 2016

Melalui momentum ini pula, kita patut berbangga karena prestasi yang sudah dicapai dalam penggerakan program ASI Eksklusif yang sudah mencapai 65%. Hal ini harus menjadi penyemangat untuk terus melakukan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik demi tercapainya Indonesia Sehat. Prof. dr. Nila F Moeloek  mengatakan, “Indonesia adalah negara yang besar, dengan banyaknya populasi yang dimiliki harus diikuti dengan kualitas yang baik.” Sesuai dengan Nawacita yang kelima yaitu mewujudkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, dalam kurun waktu ini kita masih menghadapi kendala-kendala, diantaranya masih banyaknya anak dengan gizi kurang maupun berlebih. Kerjasama perlu untuk terus dilakukan baik dengan akademisi, Persatuan Ahli Gizi, Kementerian Kesehatan, LSM maupun sektor-sektor lainnya untuk mendapatkan SDM yang berkualitas. Hal ini penting karena permasalahan gizi bukan hanya urusan Kemenkes, tetapi seluruh sektor dan lapisan masyarakat. Diharapkan pula pendekatan melalui keluarga dapat memaksimalkan edukasi dan advokasi kesehatan. “Jangan berhenti bekerja, lakukan terus evaluasi terhadap hasil yang sudah dicapai, dan lakukan inervensi apa yang dapat dilakukan. Mari tingkatkan kualitas masyarakat melalui gizi.” tutup Menkes dalam sambutannya. (IWP)