Dalam Menangani Gizi, Belanda Pun Perlu waktu

Dipublikasikan Pada : Kamis, 26 Maret 2015, Dibaca : 1105 Kali  

Jakarta--Menangani masalah gizi, menurut Prof.Dr.Ir. Hardinsyah, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia, IPB Bogor, memang tidak bisa dilakukan dengan cepat. Negara Belanda saja perlu waktu.

Slide3

“Belanda membutuhkan waktu ratusan tahun dalam menangani masalah gizi. Monitoring gizi di negara tersebut dilakukan sejak 1858 dan hasilnya baru bisa dilihat ratusan tahun kemudian” ujar Prof.Hardinsyah di sela acara “Nutri-Talk” yang diselenggarakan PT.Sari Husadadi Hotel JW.Mariot Jakarta, seperti yang dimuat Poskota (22/3) kemarin. Pada Perang Dunia II, tambah Hardinsyah, wanita-wanita Belanda mengalami kurang gizi dan gizi buruk akibat kelaparan, melahirkan bayi-bayi dengan berat badan lahir rendah dan memiliki risiko tinggi terhadap obesitas, sindrom metabolisme, dan diabetes pada usia dewasa. Indonesia hingga kini masih menghadapi masalah gizi yang sangat memprihatinkan. Ini terlihat antara lain dari jumlah balita bertubuh pendek (stunting) akibat kekurangan gizi yang mencapai 37,2 persen atau 8,8 juta balita pada 2013. “Pemenuhan gizi seimbang

terutama bagi calon ibu hamil, ibu menyusui dan Balita terus diperlukan, terutama difokuskan pada zat gizi yang masih defisiensi seperti protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsiura, yodium, zink, vit A, vit D dan asam folat," ujar Prof Hardinsyah. @fey- >foto:www.perspektifbaru-com.