Jika Kreatif, Tak Perlu Kekurangan Gizi

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 10 April 2015, Dibaca : 1795 Kali   Jakarta---Untuk meningkatkan gizi keluarga, Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Meloek, Sp.M(K), dalam kunjungan kerjanya ke Padang, Sumatera Barat (9/4) kemarin,  meminta masyarakat lebih kreatif dan berinovasi untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya. Terutama kalangan perempuan,  ia mengimbau kaum ibu harus bisa membuat variasi dari makanan. makanan gizi seimbang makanan gizi seimbang Menurutnya, Indonesia.merupakan negara dengan kondisi tanah yang luar biasa. Ibaratnya, jika seseorang melemparkan biji pepaya, bulir tersebut bisa tumbuh dengan subur. "Pepaya itu, perhatikan buah yang mudah tumbuh dan baik untuk kita makan apalagi yang sudah matang itu banyak vitamin C-nya, daunnya pun kita bisa pakai. Jadi saya pikir, tidak perlu kita sampai kekurangan gizi," ujar Menkes. Ia mengatakan, guna memperbaiki gizi, masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam berbagai macam sayuran dan buah. Sedangkan untuk lingkungan yang padat penduduknya, masyarakat dapat memanfaatkan tabula pot. Katanya lagi, variasi sayur mayur merupakan hal sederhana yang bisa dilakukan. Selain itu, juga mesti mencukupi kebutuhan protein “Protein tidak harus dari daging, tapi bisa dari ikan darat maupun ikan laut”, ujarnya. Menkes mencontohkan wilayah Sumatra Barat yang sangat kaya dengan tambak ikan. Hasil tambak ikan bisa dimaksimalkan karena ikan memiliki protein yang baik, bahkan lebih baik dari daging. Lebih jauh, Menkes juga meminta kepada kaum ibu agar memberikan perhatian sebaik-baiknya kepada kesehatan dan gizi anak. Menurutnya, tanggung jawab terhadap kesehatan anak dapat dimulai dengan sadar memberikan air susu ibu (ASI). ASI merupakan hal yang mutlak diberikan seorang ibu kepada anak-anaknya., kata Menkes. Sebab, selain ASI tidak mengeluarkan biaya, kandungan di dalam ASI juga tidak ada yang mengalahkan. "ASI adalah imunitas terbaik dan bersih untuk bayi kita," Pungkasnya. Jika melihat berdasarkan angka kondisi darurat gizi di Indonesia, nilainya sangat mengkhawatirkan. Misalnya, angka rata-rata stunting, yaitu 37,2 persen, anak kurang gizi, 19 persen. Namun, di balik angka-angka tersebut, poin untuk anak obesitas naik 11 persen. Dari angka-angka itu, Menkes mengatakan, harus ada perbaikan gizi. "Tidak ada keseimbangan antara yang kekurangan dan kelebihan gizi", katanya.@fey-