Membenahi Terminal Aman, Nyaman dan Sehat

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 03 May 2019, Dibaca : 343 Kali  

Gambar:google

BEKASI—Direktur Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, dr.Kirana Pritsari, MQIH, menyebut terminal merupakan salah satu jenis tempat dan fasilitas umum yang menjadi etalase transportasi publik, untuk meningkatkan kualitas sarana prasarana yang optimal serta terjaga kebersihannya sesuai standar pelayanan publik yang berkualitas maka penyediaan pengelolaan makanan (TPM) salah satu daya tarik wisata yang aman, nyaman dan sehat perlu dilakukan intervensi. Hal ini disampaikannya ketika membuka workshop Kesehatan Lingkungan dan Gerakan Stikerisasi Tempat Pengelolaan Pangan di Terminal Penumpang Tipe-A, di Hotel Santika Bekasi pada Kamis (2/5/2019) lalu.

 

Pengawasan kualitas lingkungan TPM, ujar Kirana, dilaksanakan melalui kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) oleh tenaga kesehatan lingkungan/sanitarian Puskesmas. TPM yang menjadi sasaran IKL antara lain rumah makan/restoran, jasaboga/catering, makanan jajanan, dan Depot Air Minum (DAM).

 

Ia tuturkan, dari pantauan data capaian TPM melalui e Monev HSP per 25 April 2019 menunjukkan sebesar 26,46% TPM telah memenuhi syarat kesehatan dari 137.096 TPM yang terdaftar.

Berdasarkan data Kejadian Luar Biasa (KLB) Tahun 2016 s.d 2018 yang bersumber dari PHEOC P2P Kemenkes terdapat 106 kejadian KLB di tahun 2016, tahun 2017 sebanyak 163 kejadian dan tahun 2018 sebanyak 122 kejadian. Sedangkan, tambah kirana, bila dilihat dari sumbernya tahun 2017 dan 2018, maka tahun 2017 terbesar bersumber dari masakan rumah tangga (36%), sedangkan 2018 bersumber dari jasaboga (26,8%).

 

Dirjen Kesmas, dr.Kirana Pritasari, MQIH ketika memberi sambutan dalam pembukaan workshop kesehatan Lingkungan di Hotel Aston Bekasi (2/5/2019)

Lebih jauh ia paparkan, kerugian bila terjadi KLB menurut hasil penelitian Word Bank biaya kesehatan untuk penanganan kejadian Penyakit Bawaan Pangan diperkirakan sekitar USD 15 trilyun per tahun dan hilangnya produktivitas yang disebabkan oleh Penyakit Bawaan Pangan diperkirakan sekitar USD 95,2 trilyun per tahun di Negara miskin dan berkembang.

 

Untuk itu, imbuh Kirana, pengelolaan TPM yang ada di lingkungan terminal harus memenuhi syarat kesehatan untuk melindungi masyarakat terhadap bahaya penyakit bawaan pangan (food borne diseases).

 

“Kegiatan pembinaan dan pengawasan TPM merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, pedagang, dan masyarakat konsumen”, ucapnya.

 

Namun, sambungnya lagi, selama ini pembinaan dan pengawasan terhadap TPM tersebut belum dilakukan secara optimal, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya keracunan pangan yang bersumber dari TPM disebabkan pencemaran biologi maupun kimia.  

 

Ia berharap, penumpang yang berangkat dalam kondisi sehat selama di perjalanan dan tiba di tempat tujuan masih dalam kondisi sehat, jangan sampai menjadi sakit akibat mengkonsusmi pangan tidak aman yang bersumber dari terminal.

 

Untuk mewujudkan terminal sehat, tutur Kirana, perlu suatu upaya intervensi perbaikan kualitas lingkungan dimana menurut teori HL.Blum faktor lingkungan memberikan kontribusi yang paling besar terhadap risiko kesehatan setelah faktor perilaku, pelayanan kesehatan. Upaya perbaikan kualitas lingkungan ini salah satu adalah  pendekatan STBM yang bisa dikembangkan di dalam terminal dengan pemberdayaan serta melibatkan seluruh aspek masyarakat dan unit yang terkait di dalam terminal lewat pemicuan pemicuan untuk perubahan perilaku menjadi lebih baik.

 

“Program Germas bisa menjadi suatu gerakan bersama antar stakeholder dan masyarakat  sebagai upaya preventif dan promotif di dalam mewujudkan Indonesia Sehat”, ujar Kirana.

 

Workshop yang dihadiri lebih dari 155 orang dari peserta pusat maupun daerah itu, direncanakan berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 2 hingga 4 Mei 2019.

 

Sesi foto bersama Dirjen Kesmas dan para peserta workshop kesehatan lingkungan di Hotel Aston Bekasi.

Dirjen Kirana sebutkan, Workshop ini merupakan salah satu komitmen Kementerian Kesehatan untuk menginisiasi intervensi pembinaan dan pengawasan Tempat Fasilitas Umum dan tempat pengelolaan pangan  di terminal. Karena berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi tim kami selama inipembinaan dan pengawasan belum optimal dilakukan sehingga perlu koordinasi lintas program dan lintas sektor.

 

Inpres Nomor 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) menyebutkan bahwa dalam rangka mempercepat dan mensinergikan tindakan dari upaya promotif dan preventif hidup sehat guna meningkatkan produktivitas penduduk dan menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan maka Presiden menginstruksikan kementerian-kementerian, lembaga negara non kementerian, pemerintah daerah dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) untuk menetapkan kebijakan dan mengambil langkah-langkah sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk mewujudkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

 

Untuk itu, sambungnya lagi, workshop ini dapat dijadikan sarana diskusi bagi Bapak dan Ibu selaku pembina dan pengawas TFU dan TPM yang ada di terminal khususnya terminal penumpang tipe A untuk menyamakan persepsi, menentukan strategi terbaik, dan komitmen bersama serta langkah langkah yang konkrit dimana pada saat ini berkumpul antar pusat dan daerah baik unsur dari kemenkes, kemenhub, Balai pengelola transportasi darat, Dinkes, Kepala Terminal, labkesda serta BTKL untuk berkolaborasi dan koordinasi dalam mewujudkan terminal sehat.

 

“Untuk pengawasan Tempat Pengelolaan Makanan memang perlu suatu gerakan stikerisasi diseluruh terminal sebagai tanda bahwa TPM tersebut telah dilakukan intervensi”, pungkas Dirjen Kirana. -(fey)-