Integrasi dan Sinergi Program Kesehatan Kerja dan Olahraga

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 17 May 2019, Dibaca : 349 Kali  

Bogor - Besarnya jumlah usia kerja merupakan sasaran penting dalam pembangunan bangsa karena peran pekerja sangat strategis dalam pembangunan bangsa. Saat ini penduduk Indonesia berjumlah 265 juta dan sekitar 133 juta merupakan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif (penduduk yang berusia 15-64 tahun) yang siap untuk bekerja (BPS, 2018).

 

Puncak bonus demografi di Indonesia diperkirakan pada tahun 2035. Tingginya populasi penduduk usia produktif pada masa itu, merupakan tantangan sekaligus peluang. Kualitas generasi di masa tersebut akan menentukan peluang Indonesia menjadi negara maju. Pendekatan upaya kesehatan yang berfokus pada populasi pekerja menjadi penting untuk menciptakan SDM yang berkualitas agar bonus demografi dapat dimanfaatkan.

 

Pekerja berada pada usia produktif, sehingga selain sebagai tulang punggung keluarga, aset perusahaan dan penggerak ekonomi bangsa, pekerja juga merupakan pencetak generasi penerus bangsa. Posisi pekerja sebagai tulang punggung keluarga memiliki peran penting dalam kesehatan keluarga. Pekerja dapat mempengaruhi gizi keluarga, health literacy pada keluarga hingga pembiasaan pola hidup yang sehat pada keluarga. Di sisi lain pekerja pada masa reproduktif, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi perlu diintervensi seperti program keluarga berencana. Peran strategis pekerja dapat berkontribusi terhadap pencapaian dan memiliki daya ungkit yang tinggi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi, stunting, penyakit menular, penyakit tidak menular serta permasalahan kesehatan masyarakat lainnya.

 

Dalam rangka menjawab tantangan, maka upaya kesehatan kerja dan olahraga tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan integrasi dengan Lintas Program dan Sektor untuk bekerja bersama. Program kesehatan kerja dan olahraga perlu menginterasikan kegiatan-kegiatanya agar dapat memberikan kontribusi posotf terhadap permasalahan-permasalahan kesehatan prioritas khususnya Penurunan AKI, AKN, dan penurunan Stunting dan Prevalensi PM dan PTM. Sebagai contoh :

 

1. Upaya Penurunan AKI, AKN, dan penurunan stunting dengan sasaran pekerja perempuan dapat di integrasikan dengan program GP2SP dan Pos UKK. Bagi pekerja formal dengan program GP2SP, informal dengan pos UKK.

 

2. Upaya penurunan prevalensi PTM dapat dilakukan dengan upaya peningkatan aktifitas fisik pada pekerja melalui program K3 di perkantoran, K3 RS, dan K3 di fasyankes.

 

Dalam pelaksanaan di lapangan Dinas kesehatan harus mampu menjadi inisiator program dan bergerak lebih agresif untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh stakeholder dan advokasi kepada pemangku kebijakan bahwa program kesehatan kerja dan olahraga merupakan program yang dapat di integrasikan dan memiliki daya ungkit dalam pencapaian sasaran prioritas.

 

Hal tersebut diutarakan Dirjen Kesmas dr. Kirana Pritasari, MQIH ketika membuka sekaligus memberikan arahan pada Pertemuan Koordinasi Pusat dan Daerah tentang Pembinaan Kesehatan Pekerja dengan tema ‘Penguatan Dinas Kesehatan dan Percepatan Capaian Program Kesehatan Kerja dan Olahraga sebagai Upaya Penurunan AKI, AKN, Stunting, dan PTM” Tahun 2019 di Rancamaya, Bogor (15/5). (ima)