“Bebaskan Dirimu Dari Gangguan Tiroid”

Dipublikasikan Pada : Rabu, 27 May 2015, Dibaca : 1641 Kali   Pemukulan Gong oleh drg Tritarayati SH, MHKes Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Medikolegal membuka acara Seminar Pemukulan Gong oleh drg Tritarayati SH, MHKes Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Medikolegal membuka acara Seminar (Jakarta, 26/05) -- Memperingati Pekan Peduli Tiroid Internasional 2015, Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan Merck Serono mengadakan Seminar Publik Pekan Peduli Tiroid Internasional 2015 bertajuk “Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid”. Kegiatan ini diselenggarakan di Kementerian Kesehatan pada Selasa, 26 Mei 2015 yang dihadiri oleh Para Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Kesehatan, Para Pimpinan Organisasi Profesi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Persatuan Rumah Sakit, Perwakilan dari Oganisasi Kemasyarakatan dan Lembaga Sosial Masyarakat, serta Perwakilan Mitra Pembangunan Internasional. “Tema Pekan Peduli Tiroid Internasional pada tahun ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mengutamakan upaya promotif-preventif dalam penanggulangan masalah kesehatan masyarakat, yang tentunya harus diimplementasikan bersama antara pemerintah dan seluruh komponen masyarakat”, ujar drg Tritarayati SH, MHKes Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Medikolegal dalam sambutannya mewakili Menteri Kesehatan Prof dr. Nila F Moeloek. Dalam sambutannya, drg. Tritarayati juga menyampaikan salah satu penyakit tidak menular yang berpotensi menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah penyakit akibat gangguan tiroid. Gangguan tiroid dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia akibat disabilitas dan keterbelakangan mental. Upaya preventif hipotiroid harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. “Upaya preventif dapat dilakukan dengan cara berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kegiatan untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya pencegahan penyakit akibat gangguan tiroid, membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat terutama penerapan gizi seimbang bagi keluarga termasuk penggunaan garam beriodium, dan mendorong masyarakat yang mempunyai bayi baru lahir untuk melakukan skrining hipotiroid kongenital sebagai upaya deteksi dan intervensi dini,” ungkap dr.Tritarayati.  “Banyak masyarakat yang belum sadar akan pentingnya pencegahan penyakit akibat gangguan tiroid ini, oleh karena itu perlu ada sosialisasi yang lebih gencar kepada masyarakat akan pentingnya pencegahan dan akibat dari gangguan tiroid yang tidak segera ditangani,” tambah Jane. dr. Elizabeth Jane Soepardi MPH Dsc memberikan sambutannya dr. Elizabeth Jane Soepardi MPH, Dsc Direktur Bina Kesehatan Anak memberikan sambutannya “Hormon tiroid dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh dan fungsi otak. Permasalahan yang terjadi di negara-negara berkembang sekarang ini adalah kekurangan hormon tiroid atau hipotiroid”, ungkap Direktur Bina Kesehatan Anak dr. Elizabeth Jane Soepardi MPH Dsc disela seminar publik tersebut. Sementara hipotiroid kongenital adalah kelainan atau cacat bawaan sejak lahir dimana bayi tidak memiliki kelenjar hormon tiroid atau kelenjar hormon tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hipotiroid Kongenital mengakibatkan bayi tidak dapat tumbuh secara normal dan mengalami keterbelakangan mental apabila terlambat ditangani. Dr. Jane mengungkapkan bayi yang baru lahir dapat diketahui kondisi tiroidnya dengan melakukan Skrining Hipotiroid Kongenital. “3-5 hari bayi lahir harus di skrining supaya dapat terdeteksi secara dini, dan bila positif hipotiroid bayi harus segera mendapatkan terapi hormon tiroid, bayi yang di skrining lewat dari 5 hari sudah terlambat dan fungsi sel otak sudah tidak bisa berkembang,” tambah dr.Jane. Masyarakat dapat melakukan skrining dan mendapatkan tablet hormon tiroid di fasilitas pelayanan kesehatan beberapa propinsi dengan harga yang sangat terjangkau. Narasumber memberikan materi pada Seminar Publik Narasumber memberikan materi pada kegiatan seminar

Seminar publik ini berisi lima sesi dengan topik bagaimana mencegah keterbelakangan mental melalui Skrining Hipotiroid Kongenital, pembiayaan Skrining Hipotiroid Kongenital dan dampak Hipotiroid Kongenital terhadap sosio ekonomi negara, upaya pencegahan gangguan fungsi tiroid pada dewasa, komitmen Merck Serono dalam pengendalian gangguan tiroid di Indonesia, serta testimonial pasien penderita kanker tiroid papiler Bunga Ramadani, seorang pengajar di Maluku Tenggara Barat. Dalam seminar ini, panitia menggandeng Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, dr. Risa Anwar dari Merck Serono, dr. Andi Nanis Sacharina Marzuki, SpA(K) dari UKK Endokrinologi IDAI dan Dr. Tri Juli Edi, SpPD-KEMD dari PERKENI sebagai pembicara. (humas)