RAKORNIS GIKIA

Dipublikasikan Pada : Selasa, 09 Juni 2015, Dibaca : 1265 Kali  

Bekasi (8/6) -- Demi terciptanya sinergitas perencanaan kegiatan prioritas kesehatan terpadu dan kebutuhan sumberdaya untuk pelaksanaan program percepatan penurunan AKI dan AKB serta Gizi Buruk pada tahun 2016, maka Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA melaksanakan pertemuan Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) untuk 9 Provinsi Prioritas Tahun 2015.

Rakornis yang berlangsung mulai tanggal 8 sampai dengan 11 Juni 2015 yang bertujuan untuk melakukan koordinasi dan sinkronisasi rencana kegiatan daerah terhadap percepatan penurunan AKI, AKB dan Gizi Buruk ini dihadiri oleh Peserta Pusat, Penanggungjawab Program Gizi dan KIA di  9 Provinsi prioritas dan 64 kabupaten di dalamnya.

Paparan dari Para narasumber unit utama lainnya Paparan dari Para narasumber unit utama lainnya

Mengapa hanya fokus pada 9 provinsi? Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan 9 Provinsi prioritas yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap program kesehatan nasional, dan diharapkan dapat meningkatkan capaian tujuan pembangunan kesehatan. “9 Provinsi ini menyumbang 58 persen angka kematian ibu,” kata Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, dr Anung Sugihantono, M.Kes pada sambutan pembukaan.

Ke-9 provinsi tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Dari keseluruhan provinsi ini ikut terlibat  64 kabupaten/kota di dalamnya.

Dalam paparannya. dr. Anung menjelaskan tentang percepatan penurunan AKI dan AKB serta Perbaikan Gizi tahun 2016 di 64 Kabupaten/Kota Prioritas. “Jumlah kematian Ibu relative menurun pada tahun 2014 dan 2015 dibandingkan pada tahun 2013. Saat  ini Angka Kematian Ibu mencapai 359 per 100.000 Kelahiran Hidup, sementara Target RPJMN pada tahun 2019 angka kematian ibu adalah 306 per 100 ribu kelahiran hidup,” tandasnya.

Angka kematian bayi pada tahun 2012 adalah 32 per 1000 kelahiran hidup dan target RPJMN yang ingin dicapai pada tahun 2019 nanti adalah 24 kematian setiap 1000 kelahiran hidup.

Untuk indikator  persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan  dari tahun 2010 sampai dengan 2014, sesuai dokumen Renstra, target 100% dan capaian 100%, namun demikian ada data tentang kasus balita gizi buruk yang ditangani. “Walaupun angka gizi kurang kita menurun 50 persen tetapi jangan senang terlebih dahuhlu karena jumlah sasaran kita sangatlah besar” lanjutnya.

Dr. Anung menegaskan lagi bahwa pada bulan September 2015 nanti ,Presiden RI akan menandatangani Sustainable Development Goal’s (SDGs), di mana program gizi akan memiliki 14 indikator sendiri.

Pertemuan ini masih dilanjutkan dengan beberapa paparan dari narasumber unit utama lain tentang dukungan terhadap penurunan AKI dan AKB serta perbaikan gizi pada tahun 2016  yaitu: Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Sekretaris Badan PPSDM, dan Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Direktur Simkarkesma Ditjen P2PL.

Akhir dari pelaksanaan Rakornis ini diharapkan terkoordinasinya pelaksanaan program yang mendukung upaya percepatan penurunan AKI, AKB dan Gizi Buruk yang sinergis antara pusat dengan daerah di 9 Provinsi prioritas dengan cakupan 64 kabupaten/kota. (humas)