Workshop Halun 2019 : Dirjen Kesmas Paparkan Tentang Lansia SMART

Dipublikasikan Pada : Rabu, 10 Juli 2019, Dibaca : 676 Kali  

Dirjen Kesmas, dr.Pritasari, MQIH, ketika memberikan paparan pada Workshop Hari Lanjut Usia (Halun) 2019 di Balaikota Jakarta.

JAKARTA--Meningkatnya keberhasilan pembangunan kesehatan dan kesejahteraan penduduk di Indonesia selain berdampak terhadap terjadinya penurunan angka kelahiran, angka kesakitan, dan angka kematian juga diikuti oleh peningkatan Umur Harapan Hidup (UHH). Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, dr.Kirana Pritasari, MQIH di hadapan peserta Workshop Hari Lanjut Usia Nasional (Halun) di Balaikota Jakarta pada Jumat (5/7/2019) lalu.

 

“Dampak dari peningkatan UHH, menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk”, tambahnya.

 

Lebih jauh ia paparkan, berdasarkan hasil proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS), sejak tahun 2010 makin terlihat peningkatan jumlah penduduk lansia yang menunjukkan adanya transisi menuju struktur penduduk tua (ageing population). Pada tahun 2019, jumlah penduduk lansia sebesar 9,7% dari total jumlah penduduk atau sekitar 25,9 juta orang. Tahun 2035 diperkirakan sebesar 48 juta (15,77%), atau hampir tiga kali lipat dibanding pada tahun 2010.

 

“Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan upaya antisipatif, sehingga dapat mewujudkan lansia yang Sehat, Mandiri, Aktif dan Produktif (SMART)”, tegas  Kirana.

 

Pada kesempatan itu, Kirana juga menyebut beberapa provinsi padat penduduk yang persentase lansianya berada di atas angka nasional, seperti D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara dan Bali.

 

“Tingginya populasi lansia tentu akan memberi warna dalam epidemiologi bidang kesehatan dimana terjadi peningkatan angka kesakitan karena penyakit degenerative”, ucapnya.

 

Bagi provinsi yang telah mengalami aging population, Kirana berharap untuk dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan infrastruktur yang ramah lansia, sedangkan bagi provinsi yang baru akan masuk dalam tahap tersebut perlu segera bersiap dan mulai membuat langkah antisipatif untuk menghadapi ledakan penduduk lansia (silver tsunami).

 

Sementara itu, berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, penyakit yang terbanyak pada lansia untuk penyakit tidak menular antara lain: hipertensi, masalah gigi, penyakit sendi, masalah mulut, diabetes mellitus, penyakit jantung dan stroke, dan penyakit menular antara lain seperti ISPA, diare, dan pneumonia. Selain penyakit tidak menular dan menular, lansia berisiko untuk masalah gizi terutama gizi lebih, gangguan mental emosional, depresi, serta demensia.

 

Dari hasil penilaian tingkat kemandirian dengan menggunakan instrumen Activity Daily Living (ADL), terdapat 74,3% lansia mandiri yang berpeluang untuk dioptimalkan potensinya, agar berkontribusi di masyarakat dan lingkungannya. Sebaliknya lansia dengan ketergantungan sedang, berat, dan total sebanyak 3,7%, dengan penyebab utama adalah penyakit stroke, cedera, rematik dan kencing manis, oleh karenanya perlu dikembangkan pelayanan Long Term Care/perawatan jangka panjang bagi lansia.

Dirjen Kesmas, Dr.Kirana pritasari ketika memberi bingkisan kepada para Manula yang hadir pada acara workshop hari lanjut Usia di Balaikota Jakarta (5/7/2019)

Menurut Kirana, dalam menghadapi kondisi Ageing Population di Indonesia, secara nasional telah memiliki komitmen melalui beberapa  kebijakan terkait kesehatan lanjut usia, seperti untuk peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi lansia di fasilitas pelayanan kesehatan primer dan rujukan serta pemberdayaan potensi lansia di masyarakat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan lansia untuk mencapai Lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif dan berdayaguna bagi keluarga dan masyarakat. Atau dapat disingkat dengan Lansia SMART.. “Sehat, Mandiri, Aktif, pRodukTif”. (Humas).