Beras Forti “Beras Bergizi Untuk Masyarakat”

Dipublikasikan Pada : Senin, 25 Agustus 2014, Dibaca : 1262 Kali  

Kabupaten Karawang – Jawa Barat, berkenaan dengan peningkatan status gizi masyarakat terutama masyarakat miskin dan untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia, maka Perum Bulog bekerjasama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) - Bappenas, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian dan dibantu dengan beberapa donatur asing, melakukan program fortifikasi beras miskin (Raskin). Akhirnya pada tanggal 14 Agustus 2014 dilakukan Peresmian Pelaksanaan Produksi Perdana Raskin Fortifikasi terpusat di Kabupaten Karawang, yang merupakan salah satu Kabupaten terpilih di Indonesia sebagai pilot project.

Dirjen Bina Gizi dan KIA ketika menyapaikan sambutannya pada peresmian produksi perdana beras miskin fortifikasi di Kabupaten Karawang-Jawa Barat Dirjen Bina Gizi dan KIA ketika menyapaikan sambutannya pada peresmian produksi perdana beras miskin fortifikasi di Kabupaten Karawang-Jawa Barat

Produksi perdana Raskin Fortifikasidiresmikan oleh Wakil Ketua Bappenas. Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, dr Anung Sugihantono, M.Kes turut hadir dalam acara ini bersama dengan Wakil Menteri Pertanian, Deputi Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Bidang SDM dan Kebudayaan, Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog, Wakil Bupati Kabupaten Karawang dan perwakilan dari Indonesia Resident Mission – Asian Development Bank (IRM-ADB) dan Japan Fund For Poverty Reduction (JFPR), Pemda Kabupaten Karawang termasuk para penyuluh pertanian lapangan.

Wakil Ketua Bappenas mengatakan bahwa program subsisdi beras telah lama dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Hal ini dianggap sangat tepat untuk melakukan vehicle fortifikasi dalam mengatasi masalah kekurangan gizi mikro khususnya pada penduduk miskin. Dalam jangka panjang fortifikasi raskin dapat memberi kontribusi yang signifikan dalam penanggulangan masalah kemiskinan dan perbaikan kualitas hidup masyarakat miskin di Indonesia. Terutama maslah gizi di masyrakat.

Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, dr Anung Sugihantono, MKes dalam sambutannya menyampaikan bahwa fortifikasi merupakan terobosan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan gizi. Fortifikasi beras bertujuan untuk meningkatkan konsumsi zat besi dan asam folat. Hal ini diharapkan dapat membantu mengatasi masalah anemia pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Dalam jangka panjang pengembangan fortifikasi diharapkan dapat mengurangi angka kesakitan, meningkatkan aktivitas fisik, dan kemampuan kognitif masyarakat seperti yang telah dibuktikan oleh negara lain.

“Hampir 15% pengeluaran rumah tangga dipakai untuk pembelian beras, oleh karena itu pendekatan fortifikasi beras merupakan cara yang strategis untuk menyelesaikan persoalan gizi masyarakat”, ujarnya. Komposisi premix yang menjadi campuran beras forti adalah  besi/Fe (80 ppm), seng/Zn (30 ppm), thiamin/Vitamin B1 (6,4 ppm), Niacin/Vitamin B3 (53 ppm), Asam Folat (1,3 ppm) dan Riboflavin/Vitamin B12 (0,01 ppm). Dalam setiap kilogram beras, premix yang dicampurkan sejumlah 10 gram.

Sementara itu Deputi Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Bidang SDM dan Kebudayaan Dra. Nina Sardjunani, MA menjelaskan tentang pelakanaan proyek fortifikasi raskin yang dibiayai oleh Japan Fund For Poverty Reduction (JFPR). Rumah Tangga yang menjadi sasaran (RTs) proyek ini berjumlah 57.510 RTs atau 230.000 jiwa di 50 desa di Kabupaten Karawang. Raskin forti sebanyak 5000 ton akan didistribusikan selama 8 bulan sampai dengan 31 Desember 2014. Artinya setiap keluarga mendapatkan 5 – 10 kg/bulan.

Melakukan Peninjauan Proses Fortifikasi Beras Miskin Di Gudang Perum Bulog Kabupaten Karawang Melakukan Peninjauan Proses Fortifikasi Beras Miskin Di Gudang Perum Bulog Kabupaten Karawang

Dra. Nina Sardjunani juga menyampaikan hambatan selama pelaksanaan pilot project ini yaitu pertama perlunya peningkatan kadar fortifikasi khususnya zat besi dari 50 ppm menjadi 80 ppm agar lebih efektif. Kedua adalah perlunya mengubah metode fortifikasi, biaya produksi menjadi mahal akibat premix tidak dapat dicampurkan pada gabah tetapi pada raskin yang sudah dikemas dan disimpan di gudang bulog. Ketiga perlunya dilakukan perubahan rencana pengadaan premix. Semula premix akan diproduksi di dalam negeri tetapi harus diimpor karena industri dalam negeri belum siap memproduksi premix. Sehingga butuh biaya tinggi dan waktu lama untuk impor premix.

Peninjauan gudang beras milik Perum Bulog di Kabupaten Karawang dilakukan setelah acara resmi pembukaan. Para pejabat dari masing-masing Kementerian secara bersama-sama menekan tombol sebagai tanda diresmikannya produksi perdana beras forti ini.

Peliput  : Fitria Maulina & Nurkhalida (Humas Gizi dan KIA)