Evaluasi BOK Tahun Anggaran 2015

Dipublikasikan Pada : Kamis, 08 Oktober 2015, Dibaca : 889 Kali   Bekasi (8/10) – Telah diselenggarakan pertemuan Evaluasi pelaksanaan BOK tahun Anggaran 2015 pada tanggal 8 sd 11 Oktober 2015. Acara ini diikuti oleh penanggungjawab program BOK dari 7 provinsi yaitu Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan DKI Jakarta. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi capaian Program Bina Gizi dan KIA (termasuk BOK), menginformasikan arahan kebijakan BOK tahun 2016, Evaluasi E-monev DJA dan E-monev DJA dan E-monev Bappenas sampai dengan Triwulan III TA 2015. Menurut sekretaris Ditjen Bina Gizi dan KIA dr Kuwat Sri Hudoyo, MS, saat ini realisasi BOK baru mencapai 54% karena masih ditemui hambatan dan kendala sehingga pertemuan ini untuk mencari solusi. Percepatan langkah – langkah untuk penyerapan BOK di Kabupaten. Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA dr. Anung Sugihantono, MKes dalam sambutannya mengatakan bahwa keberhasilan kita dalam membaiknya angka usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi dan indicator kesehatan lainnya jangan membuat lengah., karena masih banyak dijumpai berbagai masalah kesehtan. Seperti masalah angka kematian ibu yang masihtinggi, tingginya angka gizi kurang khususnya stunting, meningkatnya kasus penyakit menular dan penyakit tidak menular. Yang menggambarkan bahwa belum semua masyarakat mendapatkan akes pelayanan kesehatan yang bermutu, khususnya yang tinggal di daerah Teringgal, perbatasan dan Kepulauan (DTPK). Anggaran BOK tahun 2016 meningkat menjadi 2,5 Triliun. Alokasi BOK ditetapkan dengan menggunakan formula (alokasi dasar, alokasi tambahan dan alokasi lokus prioritas). Mekanisme penyaluran yang semula Tugas Pembantuan akan menjadi DAK Non Fiisk melalui Provinsi dan disalurkan langsung ke Puskesmas dengan menggunakan mekanisme pengelolaan keuangan APBD yang diatur oleh Kementerian Dalam Negeri. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan berperan sebagai Pembina teknis dalam pemanfaatan dana BOK. Selanjutnya Dirjen meminta beberapa hal yang sebaiknya dilakukan, yaitu :
  1. identifikasi permasalahan kesehatan secara spesifik agar dapat dilakukan intervensi yang benar0-benar mampu menanggulangi pokok permasalahan
  2. identifikasi permasalahan terkait manajemen/administrasi pelaksanaan program
  3. tentukan kegiatan yang berdaya ungkit tinggi, kembangkan kretifitas dan inovasi dalam rangka percepatan pencapaian program serta peningkatan penyerapan anggaran
  4. lakukan pendampingan secara intensif secara berjenjang pada daerah yang menjadi lokus minoritas masalah. Manfaatkan para penanggungjawab wilayah dalam melakukan pendampingan/supervisi.
Diharapkan dengan sisa waktu yang tinggal 2,5 bulan di tahun 2015 ini dapat saling bekerjasama meningkatkan pelaksanaan pembangunan untuk kesejahteraan masuarakat Indonesia.(Humas) Download Materi Paparan Pusat, Daerah#1, Daerah#2