Peran Perguruan Tinggi Dalam Pembangunan Kesehatan Terus di Tingkatkan

Dipublikasikan Pada : Senin, 14 Oktober 2019, Dibaca : 170 Kali  

Banda Aceh - Kementerian Kesehatan berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala Aceh menyelenggarakan Forum Nasional Kesehatan Masyarakat terintegrasi dengan The 3rdSyiah Kuala International Conference on Medicine and Health Science (SKIC-MHS), 9-10 Oktober 2019 di Banda Aceh. Tujuan dari Forum Nasional ini adalah sebagai wadah publikasi, berbagi hasil kerja sama dan praktik baik kerja sama Perguruan Tinggi dengan Ditjen Kesmas.

 

Dalamkebijakanpembangunannasional, SDGs telah diarus utamakan ke dalam Rencana Panjang Jangka Menengah (RPJMN) dan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019. Babak baru pembangunan selanjutnya akan segera dimulai yaitu RPJMN IV tahun 2020-2024 dengan tema “Indonesia berpenghasilan menengah – tinggi yang sejahtera, adil, dan berkesinambungan”. Terdapat 7 agenda pembangunan 2020-2024 dengan fokus kesehatan pada agenda ke-3, yaitu Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas dan BerdayaSaing. Dimana fokus Kementerian Kesehatan yaitu pada komitmen ”Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Menuju Cakupan Kesehatan Semesta”.

 

Untuk mendukung kebijakan pembangunan tersebut, maka dilakukan penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care), peningkatan upaya promotif dan preventif serta didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi, sehingga arah kebijakan bidang kesehatan salah satunya difokuskan melalui “Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat”.

 

Perguruan tinggi berperan sebagai pusat intelektual, memiliki Tri Dharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pangabdian masyarakat) dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pembangunan kesehatan, yaitu dalam perumusan kebijakan (policy formulation), pelaksanaan kebijakan (policy implementation) dan monitoring serta evaluasi kebijakan (policy monitoring andevaluation).

 

Sebagai langkah untuk meningkatkan peran perguruan tinggi dalam rangka percepatan pencapaian SDGs 2, 3, 5, dan 6, telah dilakukan penandatanganan Nota Saling Pengertian (Memorandum of Understanding/MoU) antara Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat dengan 21 rektor perguruan tinggi di Indonesia, yaitu: 1) Universitas Diponegoro;  2) Universitas Airlangga; 3) Universitas Lampung; 4) Universitas Andalas; 5) Universitas Sumatera Utara; 6) Universitas Nusa Cendana; 7) Universitas Udayana; 8) Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah; 9) Universitas Sriwijaya; 10) Universitas Syiah Kuala; 11) Universitas Jenderal Soedirman; 12) Universitas Padjajaran; 13) Universitas Brawijaya; 14) Universitas Gadjah Mada; 15) Universitas Lambung Mangkurat; 16) Universitas Hasanuddin; 17) Universitas Indonesia; 18) Universitas Negeri Sebelas Maret; 19) Universitas Sam Ratulangi; 20) Institut Pertanian Bogor; dan 21) Institut Teknologi Bandung.

 

Kementerian Kesehatan berharap dengan terjalinnya kerjasama dengan perguruan tinggi dapat membantu pemerintah pusat dan daerah dalam : 1) menjadi pelaku utama pelaksanaan pembangunan kesehatan yang sedang dilaksanakan, memonitor dan memberikan umpan balik dari kebijakan dan pelaksanaan Program Indonesia  Sehat; 2) mengembangkan ide-ide pembelajaran yang inovatif dan efektif sertameningkatkan kompetensi para lulusan tenaga kesehatan yang siappakaidanberkualitassertamampu menjadi motor penggerak dan prime mover atau bahkan agent of change pembangunan kesehatan di Indonesia; 3) mengadvokasi program kesehatan kepada sektor lain danmembangun pemahaman publik akan pentingnya hidup sehat; serta 4) berkontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan di daerah.(bgs)