Peran Perempuan Dalam Kesejahteraan Sosial

Dipublikasikan Pada : Rabu, 03 Desember 2014, Dibaca : 1104 Kali  

Bali-- Perempuan memiliki peran penting dalam kesejahteraan sosial. Peran

Dirjen Bina Gizi & KIA, dr.Anung Sugiantono, M.Kes ketika memberi sambutan pada pertemuan itu Dirjen Bina Gizi & KIA, dr.Anung Sugiantono, M.Kes ketika memberi sambutan pada pertemuan itu

dan posisi perempuan di struktur sosial dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dan manajemen rumah tangga, mulai dari penyediaan makanan, perawatan anak, pendidikan anak, dan aspek lainnya. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA. Dr.Anung Sugiantono, M.Kes ketika  memberi sambutan dihadapan para peserta pertemuan “Rivew Penguatan Fokus Pada Keadilan, Determinan, Gender dan Hak Asasi Manusia Dalam Rencana Aksi Kesehatan Neonatal dan Ibu di Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh WHO bekerjasama dengan Direktorat Bina Kesehatan Ibu di Hotel Kartika Plaza Bali (1/12/2014).

“Kesehatan keluarga bergantung pada peran perempuan di tingkat rumah tangga. Perempuan juga berperan sebagai panutan bagi keluarga” ujar  dr. Anung.

Hal lain yang diungkapkan oleh dr.Anung dalam sambutannya adalah tentang kualitas kesehatan perempuan. Dikatakan oleh dr. Anung, secara umum kualitas kesehatan perempuan di Indonesia masih tertinggal dan perlu upaya khusus dan afirmatif untuk meningkatkan statusnya.

Sampai saat ini di Indonesia, sebanyak 359 wanita meninggal setiap 100.000 kelahiran hidup setiap tahun (SDKI 2012). Masalah lainnya adalah prevalensi anemia pada perempuan yang masih sebesar 23,9%, sedangkan untuk laki-laki adalah 18,4% (SDKI 2013). Kemudian berdasarkan laporan rutin Kementerian Kesehatan juga diketahui bahwa jumlah kasus AIDS dari tahun 1987 hingga Juni 2014 tertinggi berada di kalangan ibu rumah tangga dengan total 6,516 kasus.

Selain itu, salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap kematian ibu dan anak adalah kualitas pelayanan obstetri dan neonatal, terutama fungsi rujukan dalam keadaan darurat jika terjadi komplikasi. Dr. Anung menambahkan meskipun keberadaan bidan telah tersebar, namun masih terdapat masalah lain yaitu masih belum meratanya tenaga dokter spesialis kandungan di seluruh wilayah di Indonesia.

Direktur Bina Kesehatan Ibu, dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA Direktur Bina Kesehatan Ibu, dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA

Menanggapi fakta itu, kata dr.Anung, kesehatan perempuan harus menjadi fokus dan  perhatian khusus. Perempuan bisa menjadi titik masuk untuk semua program yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan di struktur sosial

“Terkait dengan hal itu maka peran aktif perempuan dalam pengambilan keputusan dan partisipasinya dalam membangun bangsa menjadi penting”  tegasnya.

 Diakhir sambutannya, dr Anung menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat mengintegrasikan keadilan, gender dan hak asasi manusia ke dalam perencanaan kesehatan, pelaksanaan hingga monitoring. Peran dan tanggung jawab dari seluruh pihak sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak.

Foto bersama; Dirjen Bina Gizi & KIA dengan para peserta pertemuan dalam Foto bersama; Dirjen Bina Gizi & KIA dengan para peserta pertemuan dalam

Di bagian lain, dalam laporannya Direktur Bina Kesehatan Ibu, dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi pilot project yang selanjutnya akan dilaksanakan di regional WHO lainnya.

Rapat kerja yang direncanakan akan berlangsung selama sepekan itu dihadiri oleh peserta dari WHO Perwakilan Indonesia,  Perwakilan WHO HQ dan SEARO, Perwakilan Norwegia, DFAT, dan USAID di Indonesia,  The Partners PBB, akademisi, perwakilan Direktorat Kesehatan Ibu, Ditjen Bina Gizi & KIA serta perwakilan dari provinsi Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Jawa Tengah dan Jogjakarta sebagai perwakilan pemerintah Indonesia-@fey & Emma-